Sabtu, 06 April 2013

Sebuah Analogi tentang Jaringan Internet



Pada dasarnya, coba analogikan sebuah host sebagai sebuah rumah. Lalu anggap saja sebuah jaringan¬ LAN sebagai sebuah jalan kecil atau gang. Rumah berada di gang sempit yang terhubung pada jalan protokol. Beberapa jalan protokol terhubung ke sebuah jalan propinsi. Itulah¬ WAN, secara simpel, dimana setiap host terhubung secara hirarikal satu sama lain dalam suatu kota, meskipun tidak saling mengenal secara langsung.

Setiap polisi di pertigaan, perempatan, persimpangan, dll dapat dijadikan analogi atas sebuah router, sang pengatur lalu lintas. Sebaiknya kita tidak perlu memikirkan U-turn (bhs indonesianya apa?), karena saya belum menemukan padanan yang tepat. Ah entahlah, ada ide?

Suatu ketika, Robby (misalnya) yang tinggal di Jl. Anu no 31 Timbuktu, Mali, Afrika Barat ingin memberikan sesuatu pada Denny yang tinggal di Jl. Itu no 53 Lima, Peru, Amerika Selatan. Yang harus dilakukan Robby pertama kali adalah memeriksa tabel nama dan alamat orang sekomplek. Tidak menemukan alamat Denny di daftar ARP orang sekompleks, maka dia menuju default gateway (portal utama) yang mengarah ke luar gang atau kompleks. Saat melewati portal, bertanya pada polisi atau satpam, Robby mendapati bahwa dia (satpam) pun merasa tidak pernah tahu ada Denny di sekitar jalan itu, sehingga Robby diarahkan untuk menuju jalan raya. Sesampainya di jalan raya, Robby pun mendapati bahwa polisi di jalan raya tidak tahu ke mana harus pergi ke kota Lima, Peru, maka Robby pun lagi-lagi diarahkan menuju ujung jalan ke jalan yang lebih besar, yang ternyata merupakan jalan protokol.

Perlu kita ketahui, semua satpam dan polisi (atau router) di seluruh dunia memiliki tabiat yang sama, yaitu jika tidak mengenal atau mengetahui alamat yang dimaksud, maka mereka akan mengarahkan sang penanya untuk pergi ke ujung jalan dan ke jalan yang lebih besar. Dalam jaringan komputer, hal ini dikenal dengan istilah default gateway. Jika router tidak tahu di mana sebuah alamat IP berada, maka dia akan mengarahkan paket ke arah default gateway, atau alamat IP 0.0.0.0/0.
Begitulah seterusnya, sampai pada akhirnya dia sampai di suatu persimpangan yang sangat besar, yang polisinya tahu ke mana harus mencari alamat Denny. Polisi tersebut mengarahkan Robby menuju suatu jalan, yang ternyata mengarah ke Amerika Selatan. Di Amerika Selatan, Robby diarahkan oleh polisi setempat untuk menuju Peru. Begitu seterusnya hingga Robby menemukan rumah Denny. Simpel kan, seperti layaknya Pak Pos saat mengantarkan surat.

Untuk kembali ke rumahnya di Timbuktu, Robby harus mengulangi lagi langkah demi langkah seperti awal, terutama karena polisi di Lima tidak tahu harus ke mana untuk pergi ke Timbuktu :)
Jaringan itu sendiri luas, membentang di permukaan bumi. Tentunya tipe jalan yang ada sangat beragam. Ibarat jalan darat, laut, dan udara, ada banyak media yang digunakan dalam transmisi data. Sebut saja kabel tembaga, serat optik, microwave, radio, dll. Seperti halnya di dunia nyata ada jalan macet (bandwidth penuh), jalan memutar (multi-hop), jalan bypass (one-hop), sampai jalan tertentu untuk daerah sulit dijangkau (remote-site).

Untuk itu diperlukan polisi yang lebih mumpuni dalam mengatur lalu lintas. Polisi itu harus mampu berbahasa global, tidak ketinggalan teknologi, dan tidak mudah stres :p . Ya, routernya harus memahami protokol (aturan) routing global (biasanya BGP) dan mampu menangani traffic yang dikenakan padanya.
Untuk ke rumah Denny di Peru, Robby dari Timbuktu memiliki beberapa pilihan. Dia bisa lewat Aljazair, Perancis, New York, Texas, Panama, untuk ke Peru. Atau bisa lewat Mesir, Arab, India, Singapura, Hawai, Texas, Panama, lalu Peru. Terserah. Katakanlah karena memang Robby termasuk kaya :D , dia memiliki sangat banyak pilihan. Rumahnya memiliki landasan pesawat dengan jet pribadi, jalan bawah tanah yang langsung terhubung ke jalur-cepat-bebas-hambatan, jalur kereta bawah tanah dengan shinkansen-nya, transporter satelit, pokoknya lengkap. Semuanya milik pribadi, alias dedicated line, tak lagi fakir bandwidth dalam gang sempit dan jalan berbatu.

Beginilah jaringan komputer (dan jaringan internet) dibuat, untuk mempersatukan :)
Mengapa negara yang dilewati Robby tidak berurutan? Misalnya dari India ke Singapura, lalu ke Hawai. Padahal ada Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan... Indonesia! Tentu saja karena jalur yang dilewati memang melompat-lompat. Karenanya, perjalanan dari 1 router ke router lain disebut sebagai hop (lompatan).

Pembagian wilayah (topologi) dalam jaringan internet memang sedikit berbeda dengan pembagian teritori di bumi yang berdasarkan negara. Contohnya Indonesia, walaupun berdiri sama tinggi dengan negara yang lain secara de jure, namun faktanya jaringan internet kita sangat bergantung pada infrastruktur "jalan" milik negara lain, di antaranya Singapura, Malaysia, Australia, Amerika, Cina, serta beberapa negara di Eropa. Untuk dapat menuju internet global, semua host di Indonesia harus melewati negara-negara tersebut. Dapat dibayangkan jika salah satu dari sekian "jalan penghubung" yang hanya sedikit itu terputus, maka bencana bagi dunia internet kita.
http://ilmukomputerplus.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar